Anda belum Log-in!
Silahkan Log in

Selamat Datang di Portal Digital Content Publisher
Kamis , 23 April 2026

Perpustakaan sebagai jantung pendidikan tinggi di Indonesia, harus mampu memberi kontribusi yang berarti bagi pelaksanaan proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

TRUNOJOYO » Master Thesis S-2 » S2 Ilmu Hukum
di-posting oleh 230121100005 pada 2026-02-13 09:02:03  •  32 klik

HARMONISASI PEMBERLAKUAN HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN DI INDONESIA
HARMONIZATION OF THE ENFORCEMENT OF POSITIVE CRIMINAL LAW AND ISLAMIC CRIMINAL LAW IN MURDER CASES IN INDONESIA

disusun oleh MUHAMMAD NURUL HIDAYAT


SubyekTindak Pidana Pembunuhan di Indinesia
Kata KunciHarmonisasi
Hukum Pidana Positif
Hukum Pidana Islam
Tindak Pidana Pembunuhan
Restorative Justice

[ Anotasi Abstrak ]

Pluralitas sistem hukum di Indonesia menempatkan hukum pidana Islam dan hukum pidana positif nasional dalam posisi yang saling berinteraksi, khususnya dalam penanganan tindak pidana pembunuhan. Hukum pidana Islam melalui konsep qisas dan diyat menawarkan model pemidanaan yang menekankan keadilan retributif sekaligus membuka ruang pemaafan dan pemulihan sosial, sedangkan hukum pidana Indonesia sebagaimana diatur dalam KUHP dan KUHP Baru (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023) bertumpu pada asas legalitas, ius puniendi negara, dan tujuan pemidanaan yang bersifat preventif, represif, serta rehabilitatif. Perbedaan orientasi tersebut memunculkan kebutuhan akan upaya harmonisasi agar nilai keadilan substantif, kemanusiaan, dan perlindungan hak hidup dapat diwujudkan secara seimbang dalam sistem hukum nasional. Atas dasar tersebut, penelitian ini mengkaji: (1) bagaimana perbandingan hukum pidana Islam dan hukum pidana positif Indonesia dalam penjatuhan hukuman terhadap tindak pidana pembunuhan; dan (2) bagaimana upaya harmonisasi prinsip qisas dan diyat dalam hukum Islam dengan hukum pidana Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, dan perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kedua sistem hukum memiliki landasan filosofis dan mekanisme pemidanaan yang berbeda, keduanya memiliki titik temu dalam perlindungan hak hidup dan semangat keadilan restoratif. Prinsip diyat khususnya relevan untuk diharmonisasikan melalui pendekatan restorative justice yang telah diakomodasi dalam KUHP Baru serta berbagai regulasi penegakan hukum. Harmonisasi tersebut dapat dilakukan melalui internalisasi nilai-nilai hukum Islam secara substantif, bukan melalui formalisasi, dengan dukungan teori objektifikasi dan pluralisme hukum. Dengan demikian, integrasi nilai qisas–diyat berpotensi memperkaya sistem hukum pidana Indonesia agar lebih berkeadilan, humanis, dan sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang plural.


Deskripsi Lain

The plurality of legal systems in Indonesia places Islamic criminal law and national positive criminal law in a dynamic relationship, particularly in addressing the crime of homicide. Islamic criminal law, through the concepts of qisas and diyat, offers a model of punishment that emphasizes retributive justice while simultaneously providing space for forgiveness and social reconciliation. In contrast, Indonesian criminal law, regulated in the Criminal Code (KUHP) and the New Criminal Code (Law Number 1 of 2023), is based on the principle of legality, the state’s ius puniendi, and penal objectives that are preventive, repressive, and rehabilitative in nature. These differing orientations give rise to the need for harmonization so that substantive justice, humanity, and the protection of the right to life can be realized in a balanced manner within the national legal system. Accordingly, this research examines: (1) the comparison between Islamic criminal law and Indonesian positive criminal law in imposing sanctions for homicide; and (2) efforts to harmonize the principles of qisas and diyat in Islamic law with the Indonesian criminal law system. This study employs normative legal research using statutory, conceptual, and comparative approaches. The findings indicate that although both legal systems differ in philosophical foundations and penal mechanisms, they share common ground in the protection of the right to life and the spirit of restorative justice. In particular, the principle of diyat is relevant to be harmonized through a restorative justice approach that has been accommodated in the New Criminal Code and various law enforcement regulations. Such harmonization can be achieved through the substantive internalization of Islamic legal values rather than their formalization, supported by the theories of objectification and legal pluralism. Thus, the integration of qisas–diyat values has the potential to enrich the Indonesian criminal law system so that it becomes more just, humane, and consistent with the pluralistic character of Indonesian society.

Kontributor: Dr. Syamsul Fatoni, S.H., M.H.;Dr. Murni, S.H., M.Hum.
Tanggal tercipta: 2025-12-24
Jenis(Tipe): Text
Bentuk(Format): pdf
Bahasa: Indonesia
Pengenal(Identifier): TRUNOJOYO-Thesis-39231
No Koleksi: 230121100005


 Download File Penyerta (khusus anggota terdaftar)

 File PDF  1. TRUNOJOYO-Thesis-39231-Abstract.pdf - 204 KB
 File PDF  2. TRUNOJOYO-Thesis-39231-Cover.pdf - 5160 KB
 File PDF  3. TRUNOJOYO-Thesis-39231-Chapter1.pdf - 149 KB
 File PDF  4. TRUNOJOYO-Thesis-39231-Chapter2.pdf - 270 KB
 File PDF  5. TRUNOJOYO-Thesis-39231-Chapter3.pdf - 405 KB
 File PDF  6. TRUNOJOYO-Thesis-39231-Conclusion.pdf - 109 KB
 File PDF  7. TRUNOJOYO-Thesis-39231-References.pdf - 178 KB


 Dokumen sejenis...

     Tidak ada !

 Dokumen yang bertautan...

     Tidak ada !



 Kembali ke Daftar